"Perceraian orang tuaku, berpengaruh padaku"
Dikisahkan seorang anak bernama Rudi. Rudi adalah anak tunggal dikeluarganya. Rudi dilahirkan dikeluarga yang berkecukupan dan terdidik. Ayahnya pensiunan pegawai swasta dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Rudi merupakan siswa kelas XII sekolah menengah atas salah satu SMA di Samarinda. Rudi juga termasuk anak yang rajin, sopan namun pendiam.
Suatu malam di rumahku terdapat perselisihan antara kedua orang tuaku, dan menimbulkan pertengkaran yang sangat hebat hingga kedua orang tuaku saling melontarkan kalimat perceraian. Aku hanya bisa menangis karena terhanyut oleh keadaan, aku pun juga tidak berani melerai kedua orang tuaku. Ibuku berkata kepada ayah “saya akan menggugat cerai kamu, dan surat sidang akan segera saya kirim.“ Setelah itu ibu pergi meninggalkan rumah.
Dini hari aku masih belum bisa tidur karena masih terbayang kejadian semalam, tiba tiba ayah masuk kedalam kamarku dan bercakap denganku
“Rudi, kamu belum tidur?”
”belum yah”sahutku.
Ayah hanya menatapku dan setelah itu ia terdiam. Aku coba bertanya tentang apa yang terjadi semalam namun ayah hanya menjawab “Ayah akan memberitahumu setelah persidangan itu selesai”. Sebelum ayah meninggalkan kamarku ia mengucapkan selamat tidur padaku.
Keesokan harinya sepulang sekolah aku mendapati ayah sedang berbaring dikamar, kemudian aku cek badannya, ternyata badannya panas sehingga aku langsung memanggil dokter. Setelah diperiksa aku berbincang dengan ayah,
“ayah harus istirahat yang total supaya bisa beraktivitas seperti biasa”.
”Iya nak, kata dokter ayah sakit apa?”
”Ayah mengidap hipertensi, ayah nggak boleh terlalu memikirkan kejadian semalam. Sewaktu aku sekolah siapa yang akan mengurus ayah yang sedang sakit? Aku telepon ibu ya yah, supaya ibu bisa menemani dan mengurus ayah dirumah.”Jawabku. ”Tidak usah nak ayah bisa dirumah sendiri” terangnya.
Satu minggu setelah kejadian itupun berlalu, ibuku juga tak pernah menjengukku, menanyakan kabarku, kabar ayahku dan seperti pergi menghilang entah kemana. Karena di rumah ayah hanya menghabiskan waktu dikamar aku pun merasa sendiri, kesepian, dan akhirnya waktuku pun ku habiskan untuk bermain berkumpul dan bersenang senang dengan teman-temanku. Malam itu aku pulang jam 2 malam, sesampainya di rumah ayah menegurku, karena menurutnya itu sudah berlebihan. Karena aku merasa capek dan lelah emosiku pun tidak terkontrol dan aku mengatakan apa yang aku rasakan selama ini kepada ayah setelah pecahnya rumah tangga mereka. Kalimat yang keluar dari mulutku pun tak beraturan mulai memaki ayah, menuntut yang seharusnya menjadi hakku dan lain sebagainya. Akupun langsung masuk kekamar tanpa memperdulikan apa yang terjadi diluar kamar.
Keesokan harinya, sekitar jam 06.30 ayah menggedor gedor pintu kamarku dan menyuruhku untuk bangun, aku pun langsung terbangun dan langsung mandi. Setelah aku sudah siap berangkat sekolah aku langsung mengambil motor untuk berangkat sekolah, namun bensin motorku habis sehingga aku harus berhenti di SPBU untuk mengisi bensin. Tetapi yang aku temui malah antrean panjang, mau tak mau aku harus mengantre. Sesampainya disekolah pun jam 07.30 sehingga aku telat. Setelah masuk ke kelas ada guru mata pelajaran, dan aku tidak boleh mengikuti pelajaran jika aku belum minta surat terlambat dari pihak guru piket. Karena aku merasa lelah setelah mengantre maka aku ke kantin sebentar, disana terdapat teman temanku. Tak terasa bel istirahat pun berdering. Guru mata pelajaran melapor kepada guru BK tentang menghilangnya aku selama 4 jam pelajaran. Sehingga aku dipanggil untuk menghadap BK, disana aku ditanya kemana saja selama 4 jam pelajaran, kenapa terlambat serta dinasehati karena sebentar lagi aku akan menempuh ujian nasional.
Sepulang sekolah aku bersama teman temanku nongkrong ditempat biasa sampai jam 5 sore, sehabis itu aku pulang kerumah. Dirumah ada tetanggaku,
“Rudi, pulang sekolah jam segini?” tanyanya. Karena menurutku tidak penting maka aku langsung masuk ke kamar, namun orang itu mengikutiku sampai kekamar, sontak aku terkaget “ngapain bapak buntutin saya ?”
“Rudi apa kamu tidak tahu kalau ayah kamu selama ini sedang sakit, waktumu itu seharusnya kamu gunakan untuk merawat ayahmu apalagi ibumu sudah pergi entah kemana. Dan asal kamu tahu saya disini yang menyelamatkan ayah kamu, ayah kamu tadi jatuh dikamar mandi dan saya sudah memanggilkan dokter, kata dokter ayah kamu terserang stroke penyebabnya hipertensi dan beban pikiran”.
“Sekarang ayah dimana, apa dia baik baik saja?”
“keadannya sudah mulai membaik, ayahmu sedang istirahat dikamar. Selama ayahmu sakit aku bersedia merawatnya”. Aku langsung menuju kamar ayah, namun ayah sedang tidur dan aku dilarang membangunkannya.
Tiga bulan pun berlalu, ayah masih sama seperti yang lalu, tabungan keluarga pun mulai menipis karena digunakan untuk pengobatan ayah. Pikiran ku pun sudah tidak karuan, aku berpikir “apa aku harus putus sekolah karena biaya yang tidak mendukung?”. Kalimat itu selalu tertancap kuat dibenakku. Rudi pun masih sama seperti tiga bulan yang lalu, sering pulang malam, berani terhadap guru, nilai disekolahnya pun menurun. Apalagi ujian nasional kurang 3 bulan lagi. Ada salah satu guru yang memperhatikan keadaan Rudi. Guru itu mengadopsi rudi selama 3 bulan yang bertujuan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kebiasaan buruk Rudi dan membantu Rudi dalam mengatasi ujian nasional mendatang.
Hari minggu itu Rudi berpamitan kepada ayah, untuk pergi kerumah sang guru, ia meminta restu dan doa. Ayahnya pun merestui dan meminta yang terbaik untuk rudi. Rudi pergi meninggalkan rumah dan menuju rumah sang guru mengendarai motornya. Sesampainya dirumah gurunya disambut baik dengan keluarga sang guru. apalagi anak dari guru tersebut sudah kuliah di luar kota sehingga tidak ada dirumah dan dirumah itu hanya ada guru dan suaminya. Dirumah guru tersebut difasilitasi berbagai macam hal kesukaan Rudi, mulai dari dibelikan laptop, gitar dan masih banyak lagi. Sampai mencuci baju pun dicucikan oleh sang guru, guru itu memberikan perhatian penuh, dididik, bahkan sudah menganggap rudi sebagai anak sendiri.
Satu bulan disana kebiasaan Rudi pun mulai membaik, keluar malam yang biasanya pulang jam 2 kini pun sudah tak terulang, sopan santun yang dulu sempat hilang kini pun sudah kembali, guru itu menerapkan kedisiplinan dan kejujuran. sehingga Rudi dapat dikatakan berbeda 180 derajat menjadi yang lebih baik. Ujian nasional kurang 2 bulan lagi, setiap belajar Rudi selalu didampingi oleh guru itu, hasil nilai setiap try out Rudi selalu bagus.
Hari minggu mendekati ujian nasional Rudi pulang kerumah mengunjungi ayahnya bersama gurunya, sesampainya dirumah Rudi meminta maaf, bersimpuh di kaki sang ayah sambil menangis, karena ia sadar perilakunya selama ini kelewatan dan mempermalukan ayahnya.
“Ayah, maafkan Rudi kalau selama ini Rudi mempermalukan dan sudah membuat hati ayah sakit, maafkan Rudi sudah menambahi beban pikiran ayah, apakah ayah mau memaafkan Rudi?” Tanya Rudi.
“Itu semua bukan salah Rudi, sebelum ayah dan ibumu pisah ayah sudah memikirkan bagaimana masa depanmu kelak, maafkan ibu dan ayahmu seharusnya kamu tidak menjadi korban perceraian ini”.
”Ayah, aku kesini untuk menjenguk ayah, disamping itu aku besok akan melaksanakan ujian nasional, Rudi minta doa dan restu ayah”.
“Iya nak semoga kamu dipermudahkan disetiap urusanmu dan diberikan yang terbaik”, Setelah itu Rudi merangkul ayahnya.
“Ibu guru, terima kasih sudah mau menolong Rudi, saya sempat kaget karena Rudi masih mampu berubah ke yang lebih baik, sekali lagi saya ucapkan terima kasih” kata ayah.
“Iya pak sama sama, saya melihat ada potensi di dalam diri Rudi yang harus dikembangkan, tolong maafkan semua kesalahan yang pernah diperbuat Rudi sehingga kelak kesuksesan selalu ada dipihak Rudi, Amin” kemudian Rudi pulang kerumah gurunya.
Keesokan harinya, ujian nasional pun dilaksanakan. Hari pertama rudi mampu mengerjakan dengan baik dan lancar dan berangsur angsur sampai hari terakhir. Di hari pengumuman kelulusan, Rudi dinyatakan lulus dan memiliki nilai terbaik kelima di sekolahnya. Kata syukur dan alhamdulillah tak henti hentinya terucap pada mulut Rudi. Guru itu langsung menghampiri Rudi merangkul dan mengucapkan selamat padanya. Setelah itu Rudi diantar pulang kerumah Rudi dan disambut baik dengan ayahanda, Rudi memberi tahu kabar bahagia tersebut. Dan mulai hari itu Rudi kembali tinggal bersama ayah tercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar